Isu SARA Ada Pada Semua Orang

Sebagai orang yang merasakan namanya jadi orang minoritas, saya prihatin sekali dengan isu SARA yang menyeruak sekarang-sekarang ini. Bikin gerah. Bikin sesak napas.

Iyaaahh. Lelah liat orang saling jatuhin. Bilangnya cinta perbedaan, tapi saling tunjuk waktu ga sama. Merasa pilihannya paling benar.

Saya ga membela kaum minoritas atau pun mayoritas karena keduanya ambil bagian dalam masalah ini.

Oh yaaa??
Iyaaa

Dari kecil saya tahu rasanya sebagai orang minoritas di tengah-tengah mayoritas. Dianggap darahnya halal pun sudah pernah dengar di kuping saya langsung. Di depan mata saya. Walau pada akhirnya main bareng juga.

Tapiii...
Ternyata ga sedikit di sekeliling saya pun (bahkan saya sendiri) punya stereotype terhadap kaum mayoritas.

Hayoo ngakuu, pasti kita pernah ngomong "Suku ini begini, suku itu begitu, agama ini begini, agama itu begitu."

Kalo ga pernah saya acungin jempol.

Sadar ga sadar obrolan santai tapi tertanam dalam otak inilah yang mempengaruhi sikap kita. Ga jarang orang-orang tua menanamkan jangan terlalu dekat sama orang A, mereka begini begitu. Orang B begini begitu. Harus menikah satu suku. Giliran anaknya menikah dengan suku lain kebakaran jenggot.

Seee...
SARA itu isu harian. Kalau sampai naik ke pemerintahan wajar. Karena sudah tertanam di alam bawah sadar.

Saya bukan orang rasis?? Saya ga rasis tapi saya punya isu SARA. Saya tidak mau menikah dengan yang beda agama. Buat mereka yang bilangnya "mencintai perbedaan" saya salah. Tapi buat saya ga. Pernikahan masalah iman, hubungan saya dengan Tuhan. Terserah orang mau bilang saya bodoh atau apa (itu kenapa sedikit banyak saya mengerti perasaan mereka yang memilih seagama, terlepas isu tersebut ditunggangi politikus atau tidak).

Lalu apa isu SARA ini dibiarkan saja? Apalagi sampai pada tindakan diskriminasi? Tentu saja tidak boleh.

Kalau kita mencintai perbedaan. Sungguh-sungguh mencintai perbedaan, ya kita mulai dari diri sendiri. Berhenti mengatakan saudara kita yang beda suku dan agama dengan segala macam stereotaip. Jangan mewariskannya pada anak-anak kita. Jika pun ada dalam pikiran kita ingin melabel orang-orang tertentu, jangan diberi makan. Kita tahu pasti faktanya bahwa tidak semua orang seperti yang kita pikirkan. Jangan menyebar racun.

Jangan paksakan orang lain mengerti iman kita
Sementara kita tidak mau mengerti iman orang lain
Jangan paksa orang lain mengucapkan hari raya dan memakai segala macam atributnya kalau iman mereka memang mengatakan tidak boleh. Ya kita rayakan apa yang jadi hari raya kita.

Segala macam isu tidak benar yang ditujukan pada kita, ya cukup tanggapi dengan kepala dingin. Tidak perlu kita katai dan cemooh. Berikan penjelasan. Jika mereka tidak puas, urusan mereka. Mereka cemooh? Urusan mereka. Saling melempar lumpur tidak akan menyelesaikan masalah. Jangan buang waktu dengan hal-hal yang tidak membangun. Tetap berbuat baik. Tetap berteman.

Adakah tindakan diskriminasi kita rasakan?? Saya cuma percaya, kalau Tuhan dipihak kita siapa lawan kita? Selama hidup kita lurus sejalan Firman-Nya dan mengandalkan Dia, ga ada yang bisa melawan kita. Tapii ingatlahhh... Tetap jadi pembawa damai bukan perbantahan.

Filipi 2:14-15 (TB)  Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,
supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,

Notes: Dada saya sakit saat Pak Ahok didemo berjilid-jilid. Bukan kasian sama Pak Ahok. Saya tahu dia akan kuat menghadapai hal seperti itu.

Sakitnya tuh saat melihat para "penuai" menginjak-injak "tuaian" dengan cemooh dan amarah. Rasanya mau teriak, "Kalian sedang apa?!!"


0 Comments