Tobat ala Yudas atau Petrus?

Kamis, November 26, 2015

Jadi hari ini saya baca status seseorang tentang Yudas dan Petrus yang "sama-sama bertobat", tapi dapet perlakuan beda.
Saya sudah tulis komen di status tersebut kenapa Yudas dan Petrus sama-sama berkhianat, tapi dapet perlakuan beda.

 Maksudnya perlakuan beda gimana??
Yudas menjual Yesus, tapi akhirnya menyesal dan mengembalikan uang pada para ahli Taurat dan orang Farisi. Tapi penyesalan Yudas tidak diterima dan akhirnya Yudas bunuh diri.

Petrus menyangkal Yesus, menyesal, bersembunyi, tapi akhirnya malah dipakai Allah dengan dahsyat. Beda ya. Beda banget. Coba dikupas satu-satu.

Saya ga akan membandingkan kesalahan yang paling besar, tapi lebih kepada sikap hati Yudas dan Petrus.

Yudas menyesal bukan bertobat. Ada tertulis kalau Yudas itu sejak semula sebenarnya ga percaya sama Tuhan Yesus. Bukan ga percaya Tuhan Yesus itu baik, tapi Dia ga percaya kalau Tuhan Yesus mampu memberikan pengampunan. Dia setiap hari berada di dekat Yesus, tapi Dia ga menerima kasih itu. Dia ga tersentuh dengan apa yang Tuhan lakukan. Apa buktinya??

Matius 27:4 dan berkata: "Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah." Tetapi jawab mereka: "Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!"

Penyesalan Yudas bukan pertobatan hubungan antara manusia dan Tuhan, tapi lebih pada rasa kemanusiaan. Ia merasa bersalah, bukan merasa berdosa. Ia pikir dengan mengembalikan uang tersebut dapat membayar kesalahannya.

Rasa bersalah pada titik tertentu memang dapat mengakibatkan gangguan jiwa. Rasa bersalah yang dialami Yudas iblis pakai untuk mengintimidasi dan merusak jiwanya. Itu mengapa ia bunuh diri.


* Matius 27:5
Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri.
Kalau sejak semula Yudas percaya pada Kristus, Yudas pasti akan percaya pada pribadi Yesus. Pada perkataan-Nya dan pada kasih-Nya.

Bagaimana dengan Petrus?? Di firman reaksi Petrus setelah sadar bahwa ia telah menyangkal Yesus 3 kali hanya digambarkan menyesal dan menangis. Tapi, dia tidak lari, dia juga tidak berusaha membayar dosanya. Terlebih saat mendapat kabar bahwa Yesus bangkit, dia langsung lari menuju kubur Yesus. Bahkan dia yang duluan masuk ke kubur dari pada murid lain yang ga punya masalah apa-apa. (Yohanes 20:1-10)

Coba kalau dia punya perasaan yang sama dengan Yudas, apakah dia akan dengan segera lari menghampiri kubur dan berharap bertemu dengan Yesus?? Ga. Dia pasti akan memilih menjauh. Mau taruh di mana mukanya??

Tapi justru ini menunjukkan bagaimana Petrus mempercayai pribadi Yesus. Dia percaya Yesus ga akan menolak dia. Dia percaya kasih Yesus sama dia ga akan berkurang. Kenapa?? Petrus sudah bertobat dari sejak awal Yesus mengajaknya.

Kapan?? Waktu dia menyaksikan Yesus membuat perahunya hampir tenggelam oleh ikan. Di situ dia berlutut dan menyatakan diri bahwa dirinya pendosa yang ga layak dekat-dekat dengan Tuhan.

Lukas 5:8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: "Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa."

Yudas ga benar-benar bertobat. Petrus Ya.

Pertobatan sejati membuat kita remuk hati, rasanya tulang-tulang ini sampai darah-darah ini ga pantes berdiri di hadapan Allah, tapi pertobatan sejati juga menimbulkan iman bahwa Allah mengampuni. Kita tidak peduli lagi apa kata orang tentang masa lalu kita, hidup kita. Kita hanya peduli apa kata Tuhan. Hati kita meluap-lupa dipenuhi kerinduan untuk hidup kudus di hadapan Allah.

Nah, pertobatan versi Yudas mirip-mirip. Merasa bersalah dan merasa berdosa. Tapi kita hanya menganggapnya sepintas lalu. Kita hanya mengukur dosa kita dari segi moralitas. Kita ga melihat ada hubungan yang putus antara kita dan Pencipta karena dosa-dosa kita. Pertobatan versi Yudas bisa bikin hidup kita berubah, tapi bedanya... Kita berpikir perbuatan baik kita dapat membayar dosa kita. Di sana ga ada kasih karunia. Hidup kita dikendalikan rasa bersalah dan ketakutan akan dinilai orang lain, pembalasan dari orang lain dll. Kita mengejar standar moralitas yang tinggi, bukan ketaatan pada Allah.

Pertobatan sejati itu karya kasih karunia Allah. Di sana ga ada ketakutan selain takut akan Allah. Kasih Allah yang melingkupi kita memampukan kita untuk berani mengatasi segala hal akibat dari masa lalu kita. Bahkan masa lalu itu Tuhan putar dan jadikan alat untuk menjadi kesaksian hebat. Itu kalau kita bertobat dengan sungguh-sungguh.

Berhubung pertobatan adalah tindakan setiap hari dan terus menerus karena kita setiap hari berbuat dosa, mungkin kita perlu cek terus menerus juga, pertobatan kita pertobatan ala siapa. Ala Yudas atau Petrus??

Itu yang aku mengerti dan pelajari dari bahan yang aku sedang translate ahhahaha...

Mohon koreksinya kalau ada yang salah.


You Might Also Like

0 op-knee

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komentarmu yaa. Saya juga akan mampir ke blogmu ;)

recent posts

Popular Posts

Add Me ON

Blogger Perempuan

BB Member

Daftar Blog Saya

Subscribe