Hati Yang Menuduh

Sejak jadi ibu-ibu, saya merasa lebih jadi perempuan. Bukan karena sudah punya anak, tapi karena jadi lebih gampang tersinggung dan susah bersyukur.

Entah kenapa kebiasaan-kebiasaan buruk  perempuan yang sering disebut-sebut orang, yang pada masa single jarang saya alami, waktu sudah punya anak jadi keluar semua. Hahahha. Jujur, saya merasa tidak mengenal diri saya kadang.

Tapi sebenarnya ternyata benih kebiasaan buruk itu bukannya saya tidak punya, tapi memang sudah ada lama, hanya saja baru keluar saat mendapat tekanan dan masalah. Jadi, justru kebiasaan-kebiasaan jelek itu adalah diri saya sebenarnya yang saya tidak pernah tahu ... Tapi pasti Tuhan tahu... -_-

Jadi, kebiasaan apa yang paling saya rasakan akkhir-akhir ini? Kebiasaan hati saya yang menuduh dan "sukur-sukurin" (sukur loo!! - kayak gitu maksudnya) kondisi saya. Hati saya menuduh saya dan mengatakan saya pantas mengalami penderitaan karena saya tidak begini atau begitu, membanding-bandingkan keadaan saya dengan orang lain, dan ujungnya mengasihani diri sendiri.

Kalau sudah mengasihani diri, fisik yang udah lelah menjadi semakin terasa lelah. Makin terasa berat menjalani hidup.

Dipikiran selalu bilang, " Lo sih enak ada ART yang bantuin! Gua kerjain semua sendiri!! Ga jarang tidur cuma 2 jam cuma biar semua beres!!"
Lalu hati nurani menjawab, " Itu kan pilihan yang sudah kamu ambil. Kenapa mengeluh? Kamu masih punya mesin cuci. Ada mertua yang sesekali memberikan makanan. Bisa pakai komputer dan internet untuk kerjain bisnis. Anak ga pernah sakit walau pun kadang rewel. Coba lihat Ci Lia anak 3 urus sendiri. Coba lihat Mama Vale, urus anak sendiri dan ga punya mesin cuci."
Lalu saya menjawab, " Iya, Ci Lia kan ga kerjain bisnis dan yang lain. Murni senang menjadi ibu rumah tangga (berarti gua ga senang ya? Hahhahah). Mama Vale kan masih ada kakaknya, kerjain kerjaan rumah ya ganti-gantian. Saya kerjain semuanya sendirian!"

Intinya sih tiap mau bersyukur dengan membandingkan hidup saya dengan orang lain, semuanya patah karena memang kondisi yang saya alami "berasa" sudah paling susah.

Beberapa kali akhirnya saya memutuskan untuk mencari-cari apa yang bisa saya syukuri tanpa membandingkannya dengan hidup orang lain. Ya gimana mau bandingin kalau ujungnya malah jadi makin ga bersyukur hahahha.

Iya, rasa syukur  timbul bukan karena melihat yang di bawah kita, tapi dengan kemungkinan bahwa kita bisa mengalami hal yang lebih buruk. Bandingkanlah dengan keadaan-keadaan buruk yang pernah kita lewati juga.

Saya tidak bisa membandingkan hidup saya dengan orang lain baik dari sisi positif atau pun negatif. Kenapa? Karena kapasitas beda. Kondisi beda. Saya bukan orang lain dan orang lain bukan saya. Seempati-empatinya saya pada orang lain, saya tidak akan pernah bisa mengerti 100% kondisi orang lain.

Akhirnya saya berhasil membungkam mulut hati saya yang menuduh dan mencemooh saya dengan cara bersyukur yang benar. Itu Tuhan kasih hikmat Toeng begitu aja saat saya sedang mengerjakan transletan saya. Rasanya lega, tapi saat menghadapi hari berikutnya, ternyata ga terlalu lega hahahha.

Tuhan sedang mengajarkan saya untuk mendisiplinkan emosi dan hati saya. Kondisi sulit bukan berarti penderitaan berkepanjangan. Semuanya tergantung dari respon yang saya berikan.

Bersikap tenang menghadapi masalah bukan berarti ga punya hati, tapi lebih baik dari pada bertindak gegabah karena terbawa perasaan.

Hati yang menuduh itu memang perlu untuk menjaga hati kita tetap murni, tapi tuduhan yang mematahkan semangat dan meremukkan tulang, pastinya harus dikendalikan.

Terima kasih Tuhan untuk hari ini. Semoga besok Lasma bisa jadi pribadi yang lebih dewasa dan mengenal Engkau. Amin.


0 Comments