Bukan Kebanggaanmu

Rabu, Februari 26, 2014

Aku menggenggam erat piala ditanganku dan memandang wajah lelah dihadapanku dengan memelas. Aku berharap ia melihat untuk sekali ini saja apa yang ada di tanganku. Merasakan apa yang aku rasakan. Kebanggaan.

Mulutnya masih terkunci. Ia bangkit dari tempat duduknya dan menopang badannya dengan tongkat kayu berkepala elang. Matanya yang menunjukkan betapa ia telah melihat kejamnya dunia, memandangku lurus dan dingin.

" Eyang tidur duluan." Hanya itu yang ia ucapkan. Ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya.

Langkahnya yang begitu pelan sering kali membuatku datang padanya dengam segera, hanya untuk menuntunnya. Tapi kali ini tidak. Ditengah-tengah sesaknya napasku mendapatkan reaksi Eyang, aku tidak bersimpati pada ketidak berdayaannya.

Piala yang ada ditanganku tidak bisa membanggakannya. Piala yang kubanggakan tidak bisa menyenangkan hatinya. Ia ingin aku berhenti mencintai musik, tapi aku tidak bisa. Nyanyian hatiku tidak bisa kuhentikan.

Eyang, satu-satunya keluargaku, sampai hari ini pun aku masih seperti anakmu, tidak bisa berhenti mencintai musik. Maaf Eyang... aku tidak bisa jadi seperti yang Eyang mau.

Kuletakkan piala di tanganku di atas meja tamu. Esok pagi Eyang akan melihatnya dan terserah beliau akan diapakan simbol kebangganku itu.


amsaLFoje via Blogaway

You Might Also Like

0 op-knee

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komentarmu yaa. Saya juga akan mampir ke blogmu ;)

recent posts

Popular Posts

Add Me ON

Blogger Perempuan

BB Member

Daftar Blog Saya

Subscribe