Melawan Teori Cinta

Selasa, November 12, 2013

Beberapa bulan sebelum menikah, saya terngiang-ngiang kalimat ini -- Jatuh cinta itu karena hormon cinta dan hormon itu hanya bertahan 3 bulan. Sama seperti di awal-awal pernikahan, keromantisan biasanya hanya akan terasa manis selama 3 bulan dan selanjutnya akan terlihat jelas borok-borok pasangan. ---

http://www.colourbox.com/preview/1269948-119406-romantic-couple-enjoying-walk-in-park.jpg


Ok, saya setuju dengan kalimat itu walau tidak pernah membuktikan teori tersebut. Waktu teringat kalimat itu saya berdoa pada Tuhan, 

Tuhan, saya tidak mau perasaan kasih saya pada suami saya nanti karena hormon. Karena zat kimia yang sebenarnya bisa saya kendalikan dengan pikiran saya. Tuhan, saya mau hormon itu ada di dalam diri saya sampai kematian memisahkan kami. 


Saya, tahu untuk mewujudkan doa itu tidak mudah. Apalagi kalau di saat-saat kita merasa jengkel pada pasangan, iya tidak?? Tapi, iman saya berkata semuanya mungkin. Jatuh cinta pada pasangan setiap hari. Bukan karena apa yang dia lakukan, bukan karena apa yang dimilikinya, tapi karena dia adalah dia. Bukan yang lain.

Tuhan meyakinkan saya bahwa kita manusia diberi hikmat untuk mengendalikan tubuh kita, bukan tubuh mengendalikan kita. Jadi, sama seperti tangan dan kaki, hormon-hormon itu pun dapat kita kendalikan. Dengan cara apa yaa?? Mengambil keputusan setiap hari bahwa kita mengasihi pasangan kita tanpa syarat. Mengasihinya dari sisi Tuhan, tanpa syarat, tanpa embel-embel. 

Pernikahan saya sudah masuk bulan ke tiga dan tersembunyi di hati saya, saya takut kehilangan efek hormon itu. Seperti.. TING!! Tiba-tiba menghilang.. Tapi tentu saja itu hanya pikiran bodoh. Saya mengasihi suami saya bukan secara tiba-tiba, Ting! Begitu saja! Kasih saya tumbuh padanya perlahan seperti benih yang tumbuh. Melalui proses dan pengambilan keputusan untuk mengasihi dia apa adanya. Kadang saya mengatakan diri saya sendiri gila karena orang yang begitu saya sebal bisa menjadi suami saya, tapi biar begitu dia adalah hadiah dari Tuhan. Yang tentu saja tidak bisa diganti dengan pria mana pun.... Eaaaa...blushhh...blushhh...

Kali ini saya berdoa, semoga Tuhan memberi saya hikmat untuk mematahkan teori itu dan bisa mengasihi suami saya sampai akhir. Sama seperti Tuhan mengasihi saya dan suami saya. Aminnnn.

http://travelingclues.com/wp-content/uploads/2012/06/old-couple-holding-hands.jpg


Sepertinya sekarang saya tahu bagaimana Kristus memandang jemaat-Nya. Sangat..sangat..sangat mencintai jemaat-Nya.:)

1 Kor 14: 1 Kejarlah kasih itu......
1 Kor 16: 14 Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!
Efesus 4: 2 Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. 
Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

You Might Also Like

1 op-knee

  1. Jerrytrisya.com21 November 2013 07.01

    Really true. Great writing untuk para pasangan yang baru menikah.

    "Kasih saya tumbuh padanya perlahan seperti benih yang tumbuh. Melalui proses dan pengambilan keputusan untuk mengasihi dia apa adanya."

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komentarmu yaa. Saya juga akan mampir ke blogmu ;)

recent posts

Popular Posts

Add Me ON

Blogger Perempuan

BB Member

Daftar Blog Saya

Subscribe