Kok Kayaknya Saya Bermuka Dua ya???

Hari ini ada satu kejadian yang membuat saya merenung.

Salah satu guru membuat saya dan seorang teman admin kesal karena beliau tidak membantu kami untuk anak-anak mengikuti peraturan sekolah yang sudah lama di tetapkan.

Lalu saat makan siang tadi saya dan teman saya bertanya pada salah satu guru yang kami percaya beliau orang yang netral. Sebenarnya bagaimana caranya membuat guru-guru bisa punya satu kesepakatan yang sama dalam mendidik anak-anak murid kami.

Jawaban beliau, sejujurnya bagi saya tidak menjawab pertanyaan kami, tapi dari jawaban beliau saya mengerti kondisi guru-guru di sekolah ini. Kadang kala saya sebagai admin berpikir kalau pekerjaan saya ini cukup melelahkan (apalagi kalau ditambah efek PMS, lebai makin luar biasa).. Tapi waktu mendengar cerita guru ini saya semakin manggut-manggut dan jadi tidak enak dengan guru yang tadi kami sebelin (bahasanya jadi ababil gini). Load kerja guru itu lebih berat. Mereka juga harus belajar dan memperlengkapi diri, memeriksa pekerjaan siswa yang bejibun. Apalagi mereka yang mengajar bisa dua mata pelajaran. Jadi wajarlah ya kalau mereka mungkin kadang ga 'anggap penting' hal-hal kecil yang kami para admin sangat perhatikan.

Saya mengapresiasi guru yang sempat kami sebelin itu karena mau memberi waktu lebih supaya siswa bisa belajar lebih dan menyelesaikan unit2 yang harus dipelajari. Tapi tetap sih tidak setuju kalau prosedur yang sudah ditetapkan tidak dipatuhi :D.

Waktu saya kembali ke meja kerja saya dan tidak ada bos-bos saya. Saya jadi merenung… Kok, kayaknya saya bermuka dua ya?? Saya sering tebar senyuman di depan orang banyak, tapi saat saya melihat kesalahan orang tertentu saya mulai berpikir dia begini dan dia begitu. Waktu saya memberitahukan situasi yang mungkin kacau karena seseorang, tidak jarang di kepala saya atau mungkin bahkan saya mengeluarkan kata “ Emang dasar tuh orang.”

Labelingg…

Pernah dilabelingg?? Saya paling tidak suka dilabeling. Dari kecil saya suka dilabel ceroboh, berantakan, cengeng dsb oleh orang tua saya dan tanpa sadar, sekarang saya pun masih percaya. Biar pun tidak suka, ternyata saya masih sering dan suka melakukannya pada orang lain.

Secara sadar tidak sadar, labeling yang ada di kepala saya juga mempengaruhi sikap saya terhadap orang lain. Untuk orang-orang yang sulit mungkin saya akan menghindari kerja sama. Tidak melibatkan dalam tanggung jawab tertentu dsb.

Mungkin semua orang punya kebiasaan yang sama, tapi saya sadari labeling terkadang membunuh potensi seseorang untuk berubah atau berkembang. Mungkin kita pernah ingin berubah, saat tiba-tiba orang berkata “ Ah, lo mah emang begitu dari sononya.”, “ Ah, udahlah. Lo mah ga akan bisa berubah.” Waktu kita mendengar kalimat-kalimat itu, rasanya jadi ciut untuk mau berusaha berubah. Tidak ada kepercayaan yang diberikan. Semangat untuk berubah seperti jadi luntur seketika. Ya tidak??

Entah kenapa memiliki pemikiran seperti ini terhadap murid, guru, atau siapa pun membuat saya menjadi ngeri sendiri. Saya seperti berhenti berharap bahwa setiap orang, setiap situasi pasti bisa berubah. Saya seperti menancapkan paku dan memutuskan sesuatu kepada seseorang atau situasi walaupun saya tidak mengucapkannya.

Memang sih tidak mudah kita ini manusia untuk stop labeling orang lain (apalagi kalau sudah ngumpul dan bla..bla...).. Tapi kalau saya cek ke diri sendiri dan liat muka Tuhan, Tuhan ga pernah kasih label ke saya. Dia lebih percaya kalau saya bisa maksimal, bisa memperbaiki karakter saya, bisa menjadi Lasma yang lebih baik dari yang hari ini. Kalau Tuhan memandang saya dengan cara seperti itu, kenapa saya tidak memandang anak-anak murid, rekan kerja, teman, Aki, keluarga saya seperti itu?? Waktu diingetin soal ini, jadi pengen perbaikin sikap saya lagi. Waktu berinteraksi dengan sikap hati yang nerima dan benar, jadi lebih nyaman. Lebih bisa mengasihi, lebih bisa melihat sisi baik orang lain dan itu sangat menyenangkan dan membawa sukacita di hati . :"> (baru engeehh lohhh).

Saya baru 2 tahun berada di sekolah ini, tapi tentu saja saya sudah tahu kelebihan dan kekurangan sekolah ini. Masih muda, begitu kata saya dan Aki kalau mendiskusikan keadaan rumah kedua saya ini. Masih banyak yang harus dibenahi. Masih banyak yang perlu diperbaiki, tapi dari obrolan singkat hari ini, saya mau mengimani kalau sekolah ini akan lebih baik dari hari ini. Paling penting, bisa memaksimalkan setiap potensi siswanya baik secara skill mau pun karakter dan sikap. Aminnn

Pendidikan di Indonesia akan menjadi lebih baik. Akan ada orang-orang yang duduk di pemerintahan dan membangkitkan pendidikan di Indonesia. Tuhan pasti akan turun tangan dan kirim anak-anak-Nya. Aminnnn…



0 Comments