Dari Pikiran dan Hati Keluar Dari Jari-Jari

Selasa, Mei 21, 2013


Tahu majalah Media Kawasan? Salah satu majalah favorite saya karena isinya tentang pengetahuan dan cerita seru. Paling penting juga GRATIS :p.



Yang ini belum baca neeehh

Saya tidak mendapatkannya setiap bulan, tapi setiap saya main ke rumah Aki, pasti saya mengambil majalah itu dan mulai membuka-bukanya walaupun sudah pernah saya baca. Setiap kali membaca majalah itu sekeliling saya rasanya lebih terang dari biasanya. Apalagi kalau majalah baru. Akakakkak… Selesai membaca Media Kawasan, sering kali saya merasa ‘kenyang’. Informasi-informasi yang dituliskan di majalah tersebut membuat saya berpikir …”Oh, begitu ya? Wow! Hebat!”

Sebenarnya sih isi majalah itu diambil dari berbagai sumber juga dan paling banyak diambil dari National Geography atau Discovery Channel (dua-duanya channel ini saya suka bangettt >.<).

Terus apa hubungannya sama menulis? Akakkaka… Ga ada sih, tapi kemarin baca Media Kawasan dan ada artikel tentang Hans Christian Andersen, penulis dongen Gadis Penjual Korek Api & Little Mermaid. Saya sampai WOW-WOW bacanya. Oh, ternyata dia yang nulis. Oh, ternyata hidup dia kayak gitu dan oh..oh lainnya.


Biar tahu orangnya :p

Terus, memangnya ada apa dengan H.C. Andersen?? Ga ada apa-apa, tapi salah satu dongengnya “Gadis Penjual Korek Api”.. adalah dongeng yang saya bolak balik baca waktu masih kecil. Waktu saya membaca kisah hidup Andersen, saya jadi ingat masa-masa saya SD yang kalau jam istirahat lebih memilih nangkring di perpus daripada main dengan teman. Lucunya kalau di perpus baca buku itu aja bolak balik. Hahhaha… Buku dongeng bergambar. Tahu kan?

Saya suka cerita. Saya suka dongeng. Cerita tentang kehidupan orang lain saya juga suka. Sangat suka. Mungkin ini karena waktu kecil tante saya yang membantu Mama saya mengasuh saya dan adik saya sering bercerita. Mulai dari cerita Mak Lampir, Batu Belah, Cinderela, banyakkk cerita rakyat dan cerita seram hahah.. jadi kalau ada story telling, pasti muka saya melongo saking asyik membayangkan cerita yang saya dengar.

Di Sekolah Dasar saya tidak lagi mendengar dongeng, tapi membacanya. Dulu buku pelajaran favorite saya adalah buku Bahasa Indonesia. Setiap kali mendapat buku baru, pasti akan saya buka-buka dan membaca setiap cerita yang ada di dalamnya sampai habis. Bukan cerita dongengnya, tapi juga cerita dialog antara Budi dan Ani. Antara Tono dan Andi akakkakak…(ngeri kan maksud saya??)

Pertama kali membuat cerita, saya tidak menulis, tapi menggambar. Saya menggambar di buku gambar ukuran kecil yang biasa anak kecil pakai. Tahu kan?? Saya menggambar satu halaman – satu adegan..Tanpa dialog.. Saya menggambar apa saja? Gambar adegan adegan di film White Snack Snake Legend, To Liong To, Pendekar Rajawali ..nyuehehhe.. Dalam seminggu uang jajan saya bisa habis Cuma buat beli buku gambar. Buku gambar di warung bisa habis dan pembelinya hanya saya.

Itu waktu saya belum kenal komik. Setelah saya kenal komik, saya mulai membuat komik saya sendiri. Saya menggambar di buku tulis. Ceritanya? Biasa sih ababil .. Tentang lophe-lophe ga jelas.

Kelas 5 SD saya mulai menulis. Tulisan pertama saya yang benar-benar bukan karena tugas sekolah adalah naskah drama. Saya menulis rangkaian dialog yang membentuk cerita. Benar-benar hanya dialog tanpa ada deskripsi. Lucunya, cerita-cerita saya lebih pada cerita-cerita tentang vampir Cina. Waktu itu saya suka sekali menonton film komedi Cina yang bercerita tentang vampir. Saya menulis cerita tidak jauh-jauh dengan tema dan jalan cerita yang mirip-mirip.


Tahu film-film vampire kayak gini kan?? Huehhehe

Saya menuliskan cerita-cerita itu di buku tulis yang makin lama makin kumal. Pembacanya? Tentu saja teman-teman saya. Hahahhaha…

Duduk di bangku SMP saya mulai membuat cerpen. Cerpen-cerpen ababil lagi. Saya juga masih membuat komik-komik, tapi lama-lama nyerah juga dengan hobi ini karena bikinnya lama dan cape. Hahahha… Yang bikin malu, teman saya pernah meminjam buku cerpen saya dan membacanya di jam pelajaran Matematika. Ibu Tri (guru saya waktu itu) melihat kalau teman saya itu tidak konsen dengan pelajaran dan akhirnya menyita buku saya itu. Hiksss… Padahal sudah kumal itu buku. Tapi, dari situ akhirnya guru-guru juga tahu kalau saya suka menulis.

Di SMA saya semakin suka menulis karena saya mulai menambah kemampuan membaca saya, bukan hanya membaca short story yang cuma beberapa baris yang seperti di majalah Bobo atau dialog-dialog bergambar seperti komik. Saya mulai berani membaca novel. Sebenarnya sih sudah lama baca novel, seperti novel Lima Sekawan dan Ghostbumps, tapi ya itu kan bacaan enteng juga ya. Nah, novel berat pertama saya yang saya baca itu Vertical Run karangan Joseph R. Garber. Bukunya lumayan tebel dan saya sendiri ga ingat detail ceritanya karena memang bahasa orang gede *halahh dan otak SMP saya belum nyampe… Waktu SMA mulai ketagihan novel-novel lain karangan Marga T., Mira W., Sandra Brown, Daniel Steel, Harlequin dan satu lagi yang paling demen karena berbau psikologi Intensity karangan Dean Koontz . Dari baca-baca novel itu kemampuan menulis saya berkembang dan jadi punya lebih banyak perbendaharaan kata. Bukan cuma itu sih, mengembangkan cerita, alur, setting dan konflik juga kebantu dari membaca banyak novel. Selain baca novel, saya juga masih baca komik. Komik-komik yang menginspirasi saya kebanyakan karangan Kyoko Hikawa, Hiromi Mashiba, dan Yukari Kawachi. Cerita-cerita yang saya buat jadinya ga jauh-jauh mirip cerita mereka, tapi lebih drama, tragedi, dan lebay.. :p.

Masuk kuliah saya masih suka baca, tapi lebih banyak baca komik. Setelah masuk komsel, ikut Champion Gathering, SPK, dsb… Saya mulai pilih-pilih bacaan. Saya tahu baca-bacaan saya dulu sebagian besar tidak membangun, terutama untuk sisi psikologis saya sebagai cewe. Haha.. You knowlah.. Imajinasi tentang hubungan pria wanita yang romantis di awang-awang, cowo keren model begini begitu, bla..bla... kehidupan keliatan mudah.

Akhirnya sekarang lebih banyak baca buku tentang karakter, kerohanian, psikologi populer dkk. Sejak berhenti baca buku-buku fiksi, pelan-pelan saya juga berhenti berimajinasi. Berhenti membuat cerita. Pernah sih membuat 2 novel pas jaman skripsi (looohh…jangan-jangan lama lulus gara-gara bikin novel..oops). Tapi ya gitu… Ga puas juga karena pas baca lagi, novelnya kok ga ok ya? Hahhaha..
Biar pun saya berhenti menulis fiksi, tapi jari dan otak saya tidak bisa berhenti menulis. Makanya blog ini lahir dan seiring saya menulis blog, entah kenapa.. Keinginan saya untuk menulis fiksi menjadi kuat lagi. Ingin menulis lebih banyak lagi.

Saya bukan tipe orang yang mampu menulis tentang pengetahuan, sistematis, dan terstruktur. Saya suka menulis membiarkan kata-kata berputar-putar, berlari-lari di otak saya, dan akhirnya mengalir lewat darah keluar dari ujung-ujung jari saya.

Pernah kepikiran pengen kayak Cela dan Ci Grace, tapi setiap kali berpikir seperti itu, saya ga damai sejahtera. Saya ga jadi diri sendiri. Memang tulisan seperti yang dibuat Cela dan Ci Grace itu sangat memberkati, tapi cara saya menulis bukan seperti mereka. Istilahnya, menulis seperti mereka bukan bagian saya.

Makanya setiap baca kisah Shakespeare, H.C. Andersene, Dee Lestari, dan penulis-penulis lain saya jadi kebakar-bakar.. *Semprottt..padamin. Rasanya pengen kayak mereka. Malah di otak, " Tuhan, Lasma mau kayak merekaaa...tapi di bidang cerita rohani.."
Akhir-akhir ini semakin ingin mengejar mimpi saya waktu SMP-SMA untuk jadi penulis novel. Mimpi yang pernah saya kubur, tapi ga tau kenapa sekarang seperti tumbuh lagi dan makin subur. Pengen menyampaikan pesan lewat cerita. Lewat fiksi dan imajinasi yang ada di kepala saya. Lewat film dan cerita yang sering muncul di kepala saya.

Mungkin ga bener-bener jadi penulis, tapi sekarang-sekarang ini semakin semangat untuk menyelesaikan cerita hidup tokoh-tokoh yang muncul di hati dan pikiran saya. Ingin menyelesaikan cerita tentang mereka dan menyampaikan pesan lewat hidup mereka.

Pagi ini pun sebenarnya masih bertanya, “ Tuhan, ini yang Engkau mau atau ga? Tapi hati aku menggebu-gebu untuk mengejarnya.”… Bukan untuk menjadi penulis terkenal, tapi untuk menyelesaikan cerita-cerita ini saja. Setelah itu, mungkin akan ada mimpi baru untuk membuat cerita-cerita itu tersebar luas… Hehehe.. Jika Tuhan berkenan, maka terjadilah...Berkenanlah, Be..Berkenan..*maksa..



You Might Also Like

2 op-knee

  1. Hayukk.. nulis novel yang ada nilai-nilai Kristus-nya, kak! Kayak CS Lewis gitu :D Jadi nanti anakku ada bahan bacaan :P

    BalasHapus
  2. Aypo nulis mbak lasmaaaaa~ Wakakakak~

    *siram minyak ke api*

    Yesh! Aku masih pingin nulis dan akan terus nulis wakakak~ pokoke sebelum umur 30 kudu nerbitin novel! Oh yeah!

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komentarmu yaa. Saya juga akan mampir ke blogmu ;)

recent posts

Popular Posts

Add Me ON

Blogger Perempuan

BB Member

Daftar Blog Saya

Subscribe