Ini Aku Ada Apanya...

Cerita punya cerita, hari ini saya baru ngobrol dengan adik komsel saya tentang pekerjaannya yang cukup menekan dia (semangat ya Pri!!). Yang pasti dia percaya kalau saat-saat ini ia sedang diproses oleh Tuhan. Dari cerita dia, saya jadi teringat bagaimana kehidupan saya jaman saya masih SMP-SMA...

Begini ceritanya...
Dulu saya bukan orang yang ramah dan berani seperti sekarang. Saya bukan orang yang mau menyapa lebih dulu atau pun bisa ngebanyol sampai kebablasa. Saya adalah orang yang jayus garing dan tidak terlalu menarik (menurut saya).

Saya ingat sekali masa-masa saya pelayanan di gereja, saya seperti dibayang-bayangi oleh Kakak saya.    Seperti ada kalimat Melva is something, Lasma is nothing. Ada rasa iri pada kakak saya yang bisa pelayanan ini itu dan dipercayakan banyak hal. Ia mendapat banyak pengakuan. Ia bisa melucu dan disukai banyak orang. Sedangkan saat saya membuka mulut sedikit untuk melucu sudah dibilang garing. Akakkakaka...

Baru saya sadari sekarang saat itu saya mencari pengakuan dari orang lain. Sampai saya kelelahan dan akhirnya memutuskan untuk tidak berusaha lagi mencari pengakuan. Saya melakukan apa saja yang saya pikir saya ingin menjadi seperti apa  (tentu saja sesuai dengan norma yang berlaku & lebih banyak dipengaruhi oleh iman Kristiani saya) dan tanpa saya sadari saya mulai berubah.

Saya mulai bisa ngebanyol. banyak orang merasa nyaman dengan saya, dan mendapat banyak pengakuan dari orang lain. Kenapa bisa begituuuu??

Saya mendapat jawabannya beberapa hari lalu waktu saya membaca buku John C. Maxwell. Dalam halaman ke 8 ada judul.

" Berpikir, Bertindak, dan Tampilkanlah Diri Anda Seperti Siapa Anda Ingin Menjadi"

Statement ini agak aneh ya. Sering dengar statement lain yang bertenatangan dengan statement di atas?? Misalnya yang ini,

"@AidilAKBAR Lebih baik dibenci karena menjadi diri sendiri daripada dicintai karena menjadi orang lain - Andre Gide #AAMQuote "

" Ini diriku apa adanya."

 Tapi ada juga statement yang setrack dengan yang diungkapkan Maxwell. Misalnya dari HitmanSystem yang bilang, 

" Kalau mau jadi pria gloosy jangan be your self tapi be the best of your self " .

Temen-temen lebih setuju yang mana??

Tuhan sendiri bilang begini

" Kuduslah kamu sebab Aku kudus." 1 Petrus 1:16

"Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." 1 Yohanes 2: 6

" Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara." Roma 8:29

So??? Untuk menjadi yang terbaik dari diri kita sendiri bukan hanya harapan orang lain, tapi juga Bapa kita di surga untuk menjadi sama serupa seperti Kristus.

Terlalu sayang kalau kita hanya ingin menjadi diri sendiri apa adanya, terlalu sia-sia kalau kita ingin begini-begini saja.

" Tapi gua udah berusaha berubah. Gua mau berubah!! Tapi susaaaahhhh! Gimana dong??"

Selama saya membandingkan diri saya yang sekarang dengan yang dulu, saya menemukan satu titik dimana akhirnya saya benar-benar bisa jadi seperti yang saya mau. Pusatnya. Pusatnya berbeda. Dulu saya berpusat pada diri saya sendiri, saya ingin mendapat pengakuan. Tapi saat saya mengubur keinginan itu, saya bisa berpusat pada orang lain.

Ramah, apakah saya orang yang ramah?? Aslinya tidak. Ingin membuat orang lain merasa nyaman dan hidupnya menjadi lebih baik yang membuat saya menjadi bisa lebih ramah.

Sabar. Saya bukan orang yang sabaran, apalagi kalau tidak sesuai prinsip saya. Gimana bisa sabar?? Ingin orang lain tahu kalau dia diterima apa adanya dan kepercayaan kalau dia bisa berubah menjadi lebih baik. Hal itu yang membuat saya bisa sabar.

Penyayang?? Jujur aslinya ego saya besar, tapi keinginan melihat orang lain merasa dicintai dan tahu kalau mereka ga pernah sendiri.. Hal itu yang membuat saya bisa menyayangi orang lain.

Apakah keinginan dan perasaan itu muncul begitu saja?? Tidak... Tuhan buat saya merasakan dulu yang namanya penolakan, tidak dicintai, tidak dimengerti... Dengan cara itu hati yang berfokus pada orang lain bisa terbentuk. 

Tapi kunci terbesarnya lagi, saya punya rolemodel. Saya tahu mau seperti apa karena saya punya rolemodel yang tidak berubah dari hari ini sampai selamanya. Hati yang ga fokus sama diri sendiri... Lihat hati Tuhan dan miliki hati yang menginginkan hati Tuhan. Miliki kerinduan yang besar untuk bisa menjadi serupa Kristus. Ingin saja ga cukup, tapi....

" Berpikir, Bertindak, dan Tampilkanlah Diri Anda Seperti Siapa Anda Ingin Menjadi"

Berpikir seperti Kristus
Bertindak seperti Kristus
Tampilkan diri seperti Kristus
Karena kita ingin seperti Kristus (menjadi terang dan membawa damai)

Kalau udah kayak gitu, ga ada deh acara kita ngomong. 

" Gua emang orang kolerik, gua emang orang sanguin, gua emang pelgmatis, gua emang melankolis."

Ga ada lagi kalimat pembelaan seperti itu lagi. Yang ada hanya hati yang ingin selalu mau diubahkan dan selalu ingin memberi yang terbaik.

Susahhhh?? Ga, asal kita arahkan panah kita ke fokus yang benar.

Roma 15:2 "Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya." 
Roma 15:3a "Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri,"

4 Comments

  1. Jadi ingat bukunya Max lucado yang judulnya Just Like Jesus ^^

    BalasHapus
  2. Hmmm... tentang yang aku bicarain juga ya???

    BalasHapus
  3. Agree :) semua type personality itu udah ga masuk di akal lagi kalau udah ketemu Tuhan Yesus yang bisa merubahkan orang semau yang Dia suka utk menggenapi rencanaNya. Kadang yang kolerik bisa menunjukkan phlegmatis abis, dll. Semua patterns yang manusia buat, kalau Dia mau, bisa dijungkir balik habis, just like Paul yang perubahan hidupnya 180 derajat :)

    BalasHapus
  4. Iya, seperti kata pembina BPN saya, orang yang makin mirip Kristus kecenderungan temperamennya akan seimbang. Udah bingung deh dia dibilang Sanguin atau Plegmatis, Kolerik atau Melankolik. Keempat karakter itu jadi seimbang.

    BalasHapus