Ini Traumaku, Apa Traumamu?? :p

Kamis, Mei 10, 2012


“ Saya orang yang suka mendendam.” Seseorang berkata begitu pada saya dan saya mengerti apa maksudnya. Maksud saya, saya orang yang bertipe sama seperti dia, ya tapi mungkin dengan cara yang berbeda.

Kepercayaan adalah hal yang penting buat saya. Sekali seseorang mengecewakan saya sampai bikin saya marah (marah maksudnya benar-benar marah – ada api di kepala..bukan sekedar kecewa atau sedih, tapi maraaaahhh… Antara campur aduk pengen ngegampar orang + nangis bombay + meratap :p), saya akan ingat perkara itu lamaaaaaaaaaaaaa sekali. Mungkin saya tidak akan balas dendam, tapi saya akan sulit percaya pada orang tersebut. Ga akan musuhin, tapi jadi ada yang berubah.

Ada seseorang yang bisa membuat saya marah berkali-kali, tapi karena perintah, saya tetap mengasihi dia dan melepaskan pengampunan. Tapi saya ga bisa kasih dia kepercayaan lagi. Entah itu masalah saya, permintaan bantuan, atau apa saja. Saya bisa memberi bantuan, telinga, waktu, dan apa pun yang sebisa saya, saya berikan. Tapi kalau soal kepercayaan, nanti dulu.

Mungkin karena pembentukan masa lalu, eh mungkin juga bukan. Tapi dari kecil juga wataknya begitu sih. Plus..plus..setiap kali berharap sama orang di saat kepepet, yang diterima cuma kecewa. Kalau kata Tukul bilang, disobek-sobek rasanya hati ini.. *halahh…

Kalau gambarannya seperti ini…Eh, saya jadi kayak curcol…

Misalnya kita lagi kepepet, harus kasih kuitansi pembayaran dengan sejumlah uang yang cukup besar. Kalau kita ga temuin itu kuitansi, masa depan kita taruhannya. Orang yang kita percayakan kuitansi itu .. maksudnya orang yang kita percayain buat bayar keperluan kita, dia yang pegang kuitansinya. Dia bilang kuitansinya ada, tapi lupa ditaruh mana. Berkali-kali bilang seperti itu. Sampai deadline tiba, dia tidak memberikan juga. Kita bongkar-bongkar tempat dimana kira-kira dia menyimpannya..Tapi tidak ketemu juga. Kita Cuma bisa nangis dan panik karena waktu itu kita ga tahu apa-apa. Cupu punya daaahhh… Kita hubungin orangnya juga ga ada kabar berita. Kita taruh masa depan kita ditangan dia, tapi yang kita dapat, masa depan itu ga tau dia kemanakan. Kita jalan di kegelapan. Setelah berapa hari kemudian, kita tahu bahwa uang yang kita percayakan ternyata dipakai untuk hal lain. Jadi kuitansi itu tidak pernah ada..Ok, uang bisa dicari dimana saja, tapi kepercayaan… sejak itu saya tidak bisa benar-benar percaya pada dia. Sekalipun sekarang saya bisa mengatakan saya sudah mengampuni dan mengasihi dia, tapi maaf saya masih tidak bisa percaya. Ini namanya trauma --- Hooo…

Atau di saat-saat lain, saat kita butuh pertolongan, udah kebakaran jenggot dengan deadline.. Kita berharap ada senyuman dan kata-kata semangat. Tepukan bahu atau doa yang memberi kekuatan, tapi yah, yang ketemu cuma orang-orang yang berharap kita membantu mereka sedangkan kita sendiri sedang berpegangan di tiang, supaya tidak jatuh ke laut… Di bawah sana ada orang yang naik sekoci minta tolong dilemparkan pelampung yang jaraknya jauh dari tangan kita, yang sebenarnya orang itu pun bisa ambil sendiri.

Waaaahhh…saya mendendam semua itu semua. Marah pada orangnya?? Sudah tidak. Sudah mengampuni, tapi mungkin yang belum saya lakukan mengampuni situasi-situasi itu. Buat bilang “ Tuhan, saya percaya sama dia.” Beratnya minta ampun, lidah kayak dibuat dari batu. Tiap inget situasinya masih ngerasa sakit. Itu saat-saat saya mengerti arti kata ‘sendirian’.

Hasilnya?? Taddaaaa…Saya jadi orang neurotik boo…Ga bisa percaya sama orang. Bisa jadi sahabat orang lain, tapi susah untuk anggep orang lain sahabat. Bisa terbuka sama orang lain soal pikiran, tapi tidak dengan perasaan… (kalau kita terbuka Cuma soal pikiran, kita cenderung ga pulih. Yang terluka itu perasaaan makanya yang perlu dipulihkan itu perasaannya – so easy to say this)

Bawaannya ga mau bikin orang kecewa karena tahu rasanya kecewa itu sakit. Ga mau liat orang sendirian karena sendirian itu ga enak…. Otak saya lebih penuh mikirin orang lain dan mengorbankan diri sendiri dan ini semua sejak saya mengenal Tuhan Yesus… Hoooo… ini baik atau buruk?? Huehehhehe….

Saya ga tahu apakah ga percaya lagi sama orang itu dosa?? Saya cuma tahu kalau kondisi hati saya masih ga beres secara sosial. Sampai sekarang lebih suka fokus sama pekerjaan dan pelayanan daripada bangun hubungan dengan manusia. Bener ga beres kaaannn??

Iya… Jadi begitulah. Ini traumaku, apa traumamu? :D *halah



You Might Also Like

4 op-knee

  1. Huuum Kak,aku pernah denger statement tentang mengampuni tidak melupakan. Maksudnya gene, misalnya nih aku pernah hilangin barang kakak yang paling berharga, kakak marah donk sama aku, tapi one day kakak maafin aku, tapi kakak nggak mungkin lupa donk sama kejadian aku ilangin barang kakak? Karena kakak kan nggak amnesia, pasti inget. CUma beda-nya ketika kakak ingeed, udah nggak ada rasa sakit lagi.

    Nah kalo soal kepercayaan aku juga masih rada gamang nihh kak. karena aku cenderung untuk 'menjauh' dari orang yang aku udah tau gimana. Dalam arti, udah berkali-kali 'ktauan belangnya' nahh mirip2 yaaak :p

    Tapi bicara soal pengampunan, bicara juga soal kasih. Kasih tidak mendendam. Atau kak, mungkin-kah kita harus belajar membedakan being dan doing. Seperti Tuhan Yesus, benci pada dosa kita, tapi nggak benci sama kita pribadi. WEll itu susaaaaah.hahahaha. :D

    Ini aku koqq ninggalin komen pnjang bener yaaa X__X

    BalasHapus
  2. Thank you Kezia buat ingetin. Saya jadi TING!!

    Membenci dosanya, tapi ga benci orangnya. Saya berusaha lakukan itu, tapi emang susah boooo... Kasih itu kan menutupi segala sesuatu, yang berarti nerima buruk-buruknya orang, bukan melupakan atau menyangkal.

    Nah, saya belum melakukan itu sepertinya. Kasih saya masih kasih yang berpusat pada diri sendiri... Ya, sepertinya begitu. Saya mengasihi mereka, tapi saya tidak mau terluka... See!! T.T (ini kalimat baru nongol di kepala loh..akakkaka)..

    Baru inget juga waktu baca comment kamu,waktu saya terluka..saya menangis.. Sambil kerja nangis bombay sendirian. Akakkak...Tapi ga serahin apa yang saya alami sama Tuhan. Mungkin ini yang bikin saya masih sakit, setiap kali inget.

    Kalau orang yang pertama saya sudah bisa menerima dia, walaupun..ya tetep ga bisa kasih kepercayaan lagi soal keuangan :D. Tapi saya bisa tegor dia terang-terangan, tetap istilahnya udah plong. Untuk mengampuni dia perlu berkali-kali.

    Kalai kasus ke dua, itu beberapa orang bersamaan dan dalam situasi yang istilahnya kayak dari kanan kiri atas bawah saya ditekan... Ah, ngomong kayak gini, jadi inget TUhan Yesus. Tuhan Yesus disalib aja semua orang ninggalin Dia..Apa yang saya rasain ini emang ga seberapa sih. :p ...tetep harus jujur.

    Thak you kEzia, saya jadi mengerti situasi saya. :p

    BalasHapus
  3. Well, waktu baca nih post cuman berasa, ini gue banget huakakaka~ Sampe sekarang aku masih belajar untuk memberikan perasaan pada orang lain walau kita tahu orang itu mungkin mengecewakan kita, because Jesus has done the same >.< buat aku...

    *terharu deh...*

    BalasHapus
  4. Hehehehe..iya, kita ga bisa terikat di masa lalu ya. Rasa takut terluka harus tetap di taruh di kaki salib Tuhan. Tuhan sudah terlebih dulu menanggungnya dan semua sudah selesai. Tinggal kita yang ambil keputusan, mau pulih atau ga... *tarik napas, buang...

    Kalau sudah tau kebenaran, harusnya menghidupinya kan?? *getok-getok kepala sendiri.

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komentarmu yaa. Saya juga akan mampir ke blogmu ;)

recent posts

Popular Posts

Add Me ON

Blogger Perempuan

BB Member

Daftar Blog Saya

Subscribe