Selibat Yang Baik dan Benar

Minggu, Desember 11, 2011


“ Ga mau, Mama!! Neta mau jadi jomblo seumur hidup ajaaaahhh!!” aku menekankan kalimatku supaya kalimat itu menyerap ke hati dan pikiran Mama sedalam-dalamnya.

“ Ih, gimana sih kamu. Mau di taruh dimana muka Mama kalau anak perempuan Mama satu-satunya jadi perawan tua?!”

“ Ya, di situ aja, Mama! Mau di mana lagi??”

Aku bersiap-siap meninggalkan meja makan supaya Mama tidak membujukku menemani anak teman SMAnya yang tadi tiba-tiba nongol di depan rumah dan katanya mencariku.

Tentu saja aku bingung, kenapa tiba-tiba ada pria tak dikenal mencariku. Tadinya aku pikir tukang pos, taunya anak teman SMA Mama. Dia datang karena undangan Mama yang sangat menunjukkan gelagat kalau ingin menjodohkan aku.

“ Netaaa!! Itu temenin dulu dong Yosuanya. Masa mau dibiarin duduk di ruang tamu sendirian??”

“ Looh, kan Mama yang undang. Masa Neta yang temenin.” Protesku, mulai kurang ajar.

Aku jarang sekali melawan Mama, tapi kali ini aku benar-benar kesal dan aku tak berniat menahan amarahku sama sekali.

Bergegas aku ngeloyor pergi ke kamarku. Sekilas aku menoleh pada Yosua yang duduk manis di sofa ruang tamu. Ia melemparkan senyum. Aku membalasnya demi sopan santun, tapi langsung masuk kamar dan mengunci pintu.

Aku kembali sibuk dengan kerjaanku sebagai tim Wedding Orgenizer. Minggu ini akan ada yang menikah. Meladeni permainan Mama hanya akan memecahkan konsentrasiku. Huhh.




***


“ Net, kapan giliran lo??” pertanyaan yang membosankan terlontar lagi padaku. Chika salah satu pager betis, eh, pager ayu maksudku—yang juga teman kuliahku bertanya menggoda padaku. Disampingnya Henokh, pacar setianya, calon suaminya, salah satu teman komselku juga, nyengir kuda seolah mengulang pertanyaan Chika.

“ Kapan-kapan.” Jawabku dengan malas.

“ Ih, target lo nikah sebenarnya umur berapa sih??” Chika bertanya lagi. Membuatku semakin panas.

“ Gua ga ada target nikah karena gua ga mau nikahhh, Ibuu..” tekanku sambil mencomot semangka yang terhidang tepat di sampingku.

“ Heee!! Yakin lo??” tanya Henokh dengan muka tidak percaya.

“ Yakiiinnn!!”

“ Apa yang bikin lo yakin?” tanya Chika.

“ Karena gua males yang namanya bangun hubungan. Semua cowo tuh sama nyebelinnya. Gua jamin, pasti makan hatiii…”

Chika tertawa seolah membenarkan kata-kataku. Sementara Henokh mengernyitkan alisnya, tidak setuju. Pandangannya yang ke arahku tiba-tiba berpindah ke belakangku.

“ Itu sih ga mau merit gara-gara kepahitan…HAhahhaha…” komentar Keith, PKSku. Ternyata dia sudah ada di belakangku.

“ Yeee…Sapa yang kepahitan??!!” protesku.

Keith tidak menjawab, ia hanya menunjukku dengan garpu yang ada ditangannya.

“ Gua ga kepahitan yeee…!!” aku memprotes lagi.

“ Kalau ga kepahitan apa dong? Semua orang yang denger kalimat lo tadi juga udah tahu kalau lo tuh kepahitan. Makanya mau hidup selibat.”

Aku mengerutkan dahiku berusaha mengingat kata-kataku lagi.

“…Gua males yang namanya bangun hubungan. Semua cowo tuh sama nyebelinnya. Gua jamin, pasti makan hatiii…”

Eh, benar juga.

Ya, ampuunnn!!

“ Gua ga kepahitan.” Keith benar, tapi aku tidak mau mengakuinya. Aku tidak mau dia jadi besar kepala karena ucapannya benar. Huuhhh.

“ Ya sudah kalau tidak mau ngaku. Saya tidak memaksa.” Keith nyengir kuda lagi lalu memasukan sisa pudingnya ke dalam mulutnya sampai mulutnya penuh. Aku memutar mataku melihat tingakahnya. Kekanakan sekali.

“ Netaaa!!”

Aku menoleh mendengar namaku dipanggil. Hoo..Ternyata pasangan berbahagia turun dari panggung. Andita dan Tio, pasangan serasi dan berbahagia…juga membuatku iri.

“ Makasih ya buat acaranya. Kerja tim lo OK bangeet.” Puji Andita bersemangat. Terlihat jelas wajahnya memancarkan kebahagiaan yang luar biasa.

“ Harus dong. Apa lagi buat temen gua sendiri.” Ujarku sambil memandang Andita lalu Tio. Dengan cepat pandanganku kembali pada Andita. Aku tidak mau berlama-lama memandang Tio.

“ Ok, deh. Gua sama Tio ke sana dulu ya.” Pamit Andita sambil menunjuk ke arah segerombolan tamu yang aku tahu teman-teman kuliah Andita.

“ Thank you ya, Neta.” Ucap Tio dengan tenang. Aku mengangguk pelan. Tidak berani menatap matanya, aku menatap jidadnya. Lebih tepatnya, bekas luka yang ada dijidadnya.

Andita dan Tio berjalan meninggalkan aku yang terpaku beberapa detik. Tak lama kemudian aku segera mencari makanan. Short cake di acara ini enak sekali. Katering yang kupilih memang tepat.

Aku menyambar salah satu cheese cake dan menikmatinya. Aku ingin melupakan rasa sesak di dadaku. Erghh..KEnapa aku harus merasakannya lagi??!!



***


Aku sudah memutuskan untuk melupakan Tio dari satu setangah tahun yang lalu. Saat ia dan Andita mengumumkan hubungan mereka di FaceBook.

Shock, tidak percaya, sedih, marah, malu, dan semua perasaan tidak enak campur aduk di dada dan kepalaku. Apa yang kurasakan terhadap Tio yang sepertinya sudah tersiram selama beberapa tahun seperti ditebang dengan cepat dan dengan cara yang keji…Yah, yang ini aku agak berlebihan.

Yang pasti, sebelum Tio jadian dengan Andita aku sudah berpikir kalau Tio memiliki perasaan yang sama denganku. Dari kami saling bertatapan beberapa kali. Saat dia meminta bantuanku untuk beberapa hal yang banyak orang tahu aku ahlinya. Juga saat dia menceritakan masalah-masalah komselnya.

Aku benar-benar berpikir kalau Tio menganggap aku teman yang spesial. Aku menceritakannya pada sahabat-sahabatku. Aku ceritakan saat Tio menyapaku, saat ia mengantarku pulang, saat ia memberiku hadiah di hari ulang tahunku, semuanya kebaikannya terasa sangat khusus.

Mungkin memang aku yang terlalu bodoh. Membangun harapan-harapan tidak masuk akal.

Waktu aku melihat status Tio di Facebook ‘in relationship with Andita Sinarita’. Aku seperti tidak percaya. Beberapa kali aku mereload profile Tio berharap status itu berubah, tapi tentu saja status itu tidak berubah. Aku patah hati..

Sejak itu aku memutuskan melupakan Tio. Tidak membicarakannya. Tidak menghubunginya. Tapi jujur, aku masih memikirkannya. Arrrghhh!! Aku menyiksa diriku sendiri. Aku masih tidak mengerti dan bertanya-tanya apa maksud dari kebaikan yang selama ini ia berikan??

Patah hati itu bukan cuma membuat aku mengambil keputusan melupakan Tio, tapi juga membuat aku memutuskan untuk bersikap murni alias tidak menaruh hati pada teman-teman priaku. Tidak satu pun. Aku menganggap mereka semua saudara. Lebih tepatnya saudara yang berpotensi membuat aku terluka.

Aku menjaga jarak dari mereka. Tidak mau terlalu dekat dan tidak mau lebih dari teman atau menjadi sahabat. Aku takut sakit hati lagi…Iya, aku takut patah hati lagi…

Ah, Keith benar. Aku punya akar pahit. Aku kepahitan pada semua pria. Aku menganggap semua pria pembohong. Mereka berbuat baik hanya untuk mencuri hati wanita lalu menghancurkannya. Ternyata aku berpikir seperti itu secara tak sadar. Aku berusaha melindungi hatiku, tapi caraku salah…

Aku menghela napas dalam dan memandang kue pernikahan Andita dan Tio yang tampak sangat indah. Putih seperti salju dengan hiasan-hiasan kristal. Tema salju yang diminta Andita berhasil dibuat. Kedua pengantin sangat puas dengan kue itu, sampai tidak mau dipotong.

Heee!! Apa itu?!! Lalat? Kenapa ada lalat di Ballroom mewah ini?? Memalukan! Harus disingkirkaann!

Aku berjalan menghampiri kue tart itu. Aku ingin segera menyingkirkan lalat itu kalau tidak, keluarga Andita dan Tio akan melihatnya. Kalau mereka melihatnya, nama WO kami yang dipertaruhkan.

Dengan langkah yang cepat aku menghampiri kue tart itu. Aku tidak memperhatikan langkahku dan kakiku tersangkut di kabel speaker yang terbentang di lantai.

BRAAAAKKK!! PRAAANGG!!

Aku tersandung, kehilangan keseimbangan. Aku menggapai-gapai mencari sesuatu yang bisa menahanku. Yang kudapat hanya taplak meja yang ada di depanku dan menariknya. Tapi taplak itu tidak kuat menahan tubuhku, aku terjatuh bersama taplak itu beserta makanan yang ada di atasnya.

Semua orang memandangku, tidak terkecuali Andita dan Tio. Mereka semua terdiam. Tidak ada yang bergerak.

Aku diam di tempat aku jatuh terduduk. Memandang orang-orang yang memandangiku. Kurasakan bajuku basah kuyub. Ternyata di meja itu ada gelas-gelas para tamu yang masih berisi minuman. Aduuuhhh…

“ Ya ampun Neta. Lo gpp?!” sebuah suara memecahkan keheningan diruangan. Keith berlutut di depanku dan membereskan taplak yang kupegang erat-erat. Ia memberi tanda pada teman-teman komselku yang wanita untuk membantuku berdiri.

“ Mas!! Kabelnya tolong benerin!! Bahaya nih!” Keith memanggil para petugas peralatan dengan nada agak kesal. Mereka langsung membetulkan kabel itu mendengar seruan Keith.

“ Lo bawa baju ganti ga?” tanyanya padaku setelah memastikan para petugas itu membetulkan kabel dengan benar. Aku menggeleng menjawab pertanyaannya. Aku masih shock.

“ Pake baju gua aja dulu.” Lila menyambar. Ia tampak cemas melihatku. Sepertinya aku berantakan sekali.

Keith dan Lila membawaku ke ruang tunggu. Lila meninggalkan aku bersama Keith di ruang tunggu untuk mengambil baju gantinya yang ada di mobil yang berarti harus ke tempat parkir.

Aku dan Keith duduk di depan cermin yang melapisi dinding dan aku baru mengerti mengapa orang-orang itu terdiam. Aku berantakan sekali. Ada cheese cake di kepalaku. Ada potongan semangka di rokku. Di bagian perutku ada bekas saos gurame asam manis. Makanan itu enak-enak untuk dimakan, tapi bukan untuk dijadikan aksesoris.

“ Berantakan banget.” Gumamku.

“ Ember. Lagian kok bisa sih?” tanya Keith penasaran.

“ Kabeeelll…Pake nanya. Kan udah tahuuu.”

Keith memandangku gemas.

“ Galak amat siihh..”

“ Biarin..” aku menjulurkan lidahku sambil membereskan sisa-sisa makanan itu.

Sambil membersihkan diriku, aku teringat kalau tadi Tio pasti melihatku. Mengingat hal itu aku terhenyak. Ini benar-benar memalukaaann…!!

“ Arghhh!! Malu-maluin bangeeettt!!” aku menutup mukaku dan menggeleng-gelengkan kepalaku. Kurasakan wajahku memanas. Mau di taruh mana mukaku ini??!!

“ Telat banget sihhh??!!”

Aku terhenyak mendengar komentar Keith dan menoleh padanya. Aku memandangnya dengan kesal. Dia benar-benar tidak punya empatiii.

“ Ga usah pake nangis dong.” Ujar Keith pelan. Ia mengambil tisu yang ada di atas meja, di sebrang ruangan dan memberikannya padaku. Aku tertegun dan mengusap air mataku dengan jari. Aku menangis.

“ Dia itu memang baik, tapi bukan yang terbaik buat lo. Kalau sekarang Tuhan tunjukkin dia bukan buat lo, itu berarti akan ada seseorang yang akan Tuhan tunjukkin yang bener-bener terbaik buat lo.”

Aku mengerutkan alisku mendengar kata-kata Keith. Kenapa dia tiba-tiba bicara seperti itu? Apa dia tahu tentang perasaanku pada Tio?

“ Sok tau.” Ujarku, ketus.

“ Emang. Tapi minimal gua udah ngomong apa yang ada dipikiran gua. Lo mau mutusin buat selibat atau ga jangan karena lo takut patah hati. Pikirin bae-bae. Apa bener itu yang Tuhan mau?? Kalau lo mau hidup selibat cuma gara-gara takut patah hati sama aja lo dengan pecundaaang…”

Pluk!

Aku melemparkan gumpalan tisu yang ada di tanganku. Tisu bekas ingus dan air mataku.

“ Udah tahuu!! Ga usah lo omongin gua juga udah tahuu!!”

“ Oh udah tahu. Kalo gitu, bertobat dooongg…”

Ughhh!! PKS macam apa ini??!! Omongannya asal bangetttt…Cuma sama aku aja dia bicara seperti ituu!! Kalau sama anggota komsel lain dia bicara dengan manis dan tenang. Tapi kenapa sama aku dia ga mikirin perasaan aku??!!

Erghhh…

Ya sudahlaaahh..Buang-buang tenaga saja memikirkannya!

“ Iya, gua tobaaatt..!”

“ Tobat jangan di depan PKS. Tuh, ke Babe yang di atas!”

Aku memonyongkan bibirku kesal. Keith selalu membuat aku tidak bisa menjawab kata-katanya. Rasanya aku ingin memukulkan nampan ke mukanya yang senga itu.

“ Udah, ah. Gua mau makan-makan lagi. Yuu dadah bye bye ciiinn..”

Keith pergi meninggalkanku dengan gaya banci setelah melihat Lila sudah kembali dengan membawa kantongan. Aku mengibas-ngibaskan tanganku mengusirnya. Dia hanya membalas dengan cengiran yang lebar.

Dasaarrr..

“ Nih, bajunya. Kasian banget lo. Parah sih ya tukang peralatannya.” Lila menyodorkan dress Balinya sambil mengoceh panjang lebar. Aku hanya tertawa dan mengucapkan terima kasih.

Lila meninggalkanku sendirian untuk ganti baju. Selama aku mengganti pakaianku, aku memikirkan kata-kata Keith.

“….Lo mau mutusin buat selibat atau ga jangan karena lo takut patah hati. Pikirin bae-bae. Apa bener itu yang Tuhan mau?? Kalau lo mau hidup selibat Cuma gara-gara takut patah hati sama aja lo dengan pecundaaang…”

Tuhan, berarti selama ini aku pecundang. Aku cuma memikirkan perasaanku. Aku tidak memikirkan apa yang Engkau mau dari hidupku.

Aku terdiam berdiri. Aku teringat sebuah kalimat di dalam ayat Alkitab, tapi aku lupa di mana ayatnya ..

“ …Sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.”

Selama ini aku menghindari hubungan lawan jenis karena rasa takutku pada patah hati. Sedangkan kalau takut berarti aku tidak di dalam kasih, kalau aku tidak di dalam kasih berarti aku tidak di dalam Tuhan. Kalau aku tidak di dalam Tuhan, berarti aku tidak percaya pada Tuhan…

Aku mengendalikan hidupku sendiri. Aku berakata kalau aku berserah pada Tuhan tentang pasangan hidupku, tapi aku tidak menyerahkan hatiku pada Tuhan supaya Ia membentuk hatiku…Haiisss…Apa yang kulakukannnn??!!

Tiba-tiba saja aku merasa sangat bodoh. Satu setengah tahun aku memikul rasa sakitku sendirian. Padahal Tuhan sudah bersedia memulihkannya. Aku memulihkan hatiku dengan caraku sendiri. Aku tidak sadar kalau aku sedang menghancurkannyaaaa!!

Ya Tuhan.. Ampuni Netaa.. Ampuni Netaa.. Kalau ternyata Neta ga percaya sama Tuhan. Padahal semua pasti baik-baik aja. Mau pria yang Neta suka itu bukan PH Neta juga tidak apa-apa karena Tuhan pasti kasih yang terbaik. Entah yang terbaik itu punya PH atau pun ga punya PH. Yang pasti, asal itu rencana Tuhan, pasti itu yang terbaikkk… Yang penting hati Neta, kebahagiaan Neta, cuma Neta gantungin sama Tuhan.. Bukan sama cowo, calon PH, atau Neta sendiri…

Kurasakan air mataku meleleh di pipiku. Kusadari kebodohan yang kulakukan dengan membentengi diri agar tidak terluka. Aku tidak percaya kalau Tuhan bisa menjaga hatiku. Bodohnya aku…

Tapi aku bersyukur karena Tuhan masih menegurku. Aku tahu, Dia yang akan memulihkanku di setiap proses yang mungkin akan menyakitkan. Termasuk patah hati. Selama aku percaya pada Dia, pasti aku akan berani melangkaaahhh…Thank You, Lord. Bentuklah hatiku…Aku mau selibat hanya buat Engkau, bukan karena takut patah hati.. Beneran. Aku tobat.


***


“ Haaa…Jalan sama siapa??!!”

“ Sama Yosua. Emang kenapa?”

Keith tidak menjawab pertanyaanku. Ia ternganga tidak percaya saat tahu aku mau jalan dengan Yosua, anak teman SMA Mama yang Mama jodohkan denganku. Aku menceritakannya pada Keith setelah pulang komsel.

“ Emang lo mau dijodohin?”

“ Yah, buat nyenengin orang tua gpplah ya. Kalau orang tua udah seneng, ga masalah toh? Kan orang tua wakil Tuhan di dunia.” Jelasku sambil tersenyum lembut untuk menunjukkan bahwa aku wanita yang bijak dan takut akan Tuhan…hehhehe..

PLOOKK!!

Tiba-tiba Keith memukul pelan kepalaku dengan koran yang ia gulung, sementara tangannya yang lain memukul jidadnya sendiri. Aku langsung memonyongkan bibirku, protes.

“ Bener-bener kudu ikut kelas LSD neh anak. Ayooo, ikut Bimbingan Pra Nikah sama gua!!”

“ Heeee!!???”

Aku melongo mendengar kata-kata Keith. Kalau orang lain dengar, bisa salah tangkep tuhhh…!! Parah nih PKS. Ngomong kagak disaringgg!!

“ Ngapain ikut BPN??!! ”

“ Biar lo ngerti apa artinya nikaaahhh… Cupuuu…!!”

PLOKK!!

Keith memukul kepalaku lagi dengan koran yang ada di tangannya. Aku hanya bisa semakin memonyongkan bibirku sekaligus memasang tampang bingung.

Hoohh…Memang ada yang salah ya?? Sepertinya aku masih harus banyak belajar.***

You Might Also Like

3 op-knee

  1. Blog Good

    www.pambiwara.co.cc

    BalasHapus
  2. keren2 ceritanya, hahhhhahah
    gw bantu share ya..
    GBU

    BalasHapus
  3. Hehehhe..iya. Thank you ya!! ^^

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komentarmu yaa. Saya juga akan mampir ke blogmu ;)

recent posts

Popular Posts

Add Me ON

Blogger Perempuan

BB Member

Daftar Blog Saya

Subscribe