Di Hari Tua Mereka

Jumat, Desember 30, 2011

Hari ini, pagi-pagi sudah ribut sama Papa sampai mewek di meja makan. Hahahhaha..Masalahnya sepele karena saya meninggalkan Papa di depan tipi buat menaruh piring tapi saya tidak balik-balik lagi. Sebenarnya waktu saya tidak balik ke depan tipi, hati saya agak tergelitik..Saya merasa membuat kesalahan dan memang benar. Saat Papa ke meja makan, Papa mulai mengomel tentang anak-anaknya yang udah ga peduli dan mau pergi begitu saja dari orang tua.

Waktu denger itu hati saya sakit banget. Bukan pertama kalinya Papa bicara seperti itu, mungkin bukan dengan bahasa yang blak-blakkan seperti tadi, tapi saya mendengar kalimat yang sama. Itu seperti jeritan hati Papa.


Saat itu cuma bisa menangis dan ngedumel, Papa sering bicara seperti itu. Tidak-tidak tanya dulu.

Saya merasa tidak adil kalau Papa bicara seperti itu sementara Papa tidak tahu apa yang kami pikirkan. Posisi saya sebagai anak pun sering kali serba salah. Saya ingin memberikan waktu terbaik, tapi saya punya pelayanan, pekerjaan...Saya selalu berusaha membagi waktu saya dan pulang dua minggu sekali. Tentu saja orang tua saya tidak melihat dilema-dilema yang sering saya alami.

Sambil terus mengunyah kue bawang (masih ngunyah =.=) saya menahan tangis saya. Saat Papa bertanya kenapa saya menangis, saya hanya bisa minta Papa saya tidak bertanya dulu karena bisa-bisa saya tambah menangis.

Di meja makan kami hanya terdiam. Papa bolak-balik keluar dan selama itu Tuhan bicara. Bicara tentang ketakutan Papa ditinggalkan anak-anaknya. Waktu tahu hal itu saya tambah mau menangis, tapi berusaha menahannya. Tuhan juga megingatkan kalau Papa sudah semakin tua, beliau mungkin akan lebih baerdiwel dari sekarang. Lebih merepotkan dari sekarang...Siapa yang akan merawatnya?? Dari keempat anaknya, siapa yang akan merawatnya??

Saya hanya bisa terdiam mendengar pertanyaan ini. Merawat orang tua  yang renta dan bawel itu bukan  hal yang mudah. Perlu banyak kesabaran...Saya benar-benar tidak bisa menjawab yang Tuhan bisikkan di hati saya.

Tapi saat itu saya sangat mengerti kondisi hati Papa. Kekhawatirannya..Kalau di hari tuanya anak-anaknya membuangnya, kemana lagi dia bisa pulang??

Saat itu saya tidak bisa marah dan memutuskan untuk mengerti kondisi Papa. Apa pun kondisi orang tua saya di hari tua mereka, saya hanya tahu kalau saya mengasihi mereka. Kalau mereka ingin pulang, mereka harus pulang pada anak-anak mereka...Saya mengasihi kedua orang tua saya dan apa pun yang terjadi dalam hidup saya, pasti akan selalu melibatkan mereka...

Masalah ini setidaknya membuat saya tersadar, masih banyak Peer yang harus saya persiapkan dan perhitungkan.

You Might Also Like

3 op-knee

  1. sabar ya neng nong ^^
    aku jg lgi brgumul ttg papa, tapi mslhnya ya lain sih mpe sering mata bngkak..
    ttp smngat ya heuheu ^^

    BalasHapus
  2. Wah, apalagi waktu papahku dulu sakit, tambah sensi...Gak bisa salah-salah deh ngapain. Aku juga pernah nangis. Tp milih diam2 sih, ngomelnya dalam hati. Dan sekarang papah gak ada, ngeliat ke belakang, jadi kangen.

    BalasHapus
  3. Thank you ya all...Bukan keluarga kalau bukan konflik ya. Hehehhe...
    Situasi kayak gini udah pasti akan ketemu dalam keluarga, Puji Tuhan, Tuhan ajarin banyak sebelum-sebelumnya untuk tetap hormat sama orang tua dalam kondisi apa pun. Sama-sama Fight!!

    Waktu orang tua masih ada memang harus kasih waktu-waktu terbaik..Walaupun ga bisa selalu menyenangkan hati orang tua, minimal kita berusaha memberi yang terbaik...T.T..

    BalasHapus

Terima kasih sudah mampir, jangan lupa tinggalkan komentarmu yaa. Saya juga akan mampir ke blogmu ;)

recent posts

Popular Posts

Add Me ON

Blogger Perempuan

BB Member

Daftar Blog Saya

Subscribe