Anjing, Kucing dan Gadis Tuli

Seorang pedagang yang baru pulang dari kegiatannya berdagang di ibukota sedang kebingungan. Kereta kuda yang dinaikinya mengalami kerusakan pada rodanya dan tidak bisa melanjutkan perjalanan, padahal saat itu dia masih di tengah gunung. Pedagang ini ingin pergi ke desa sebelah untuk mencari pandai besi yang bisa memperbaiki keretanya, tapi dia takut meninggalkan kereta itu sendirian karena kereta itu penuh berisi uang perak dan barang-barang jualan dari ibukota yang akan dijualnya di kota asalnya.


Pada saat dia kebingungan, seorang pemburu dengan anjingnya lewat di jalan itu. Dengan segera pedagang itu menghentikannya dan meminta tolong pada pemburu itu untuk menjagai keretanya. Pemburu itu setuju dan duduk berjaga dengan anjingnya sementara pedagang itu pergi.

Sampai waktu menjelang malam,pedagang itu masih belum kembali sementara pemburu itu harus segera pulang karena ibunya yang sudah tua dan hampir buta menunggu makan malam di rumah. Karena itu dia memerintah anjingnya untuk menjagai kereta itu sementara dia pulang. Dengan setia anjing itu berjaga tanpa memejamkan mata untuk beristirahat. Malamnya, pedagang itu kembali sambil membawa seorang pandai besi dan dia sangat gembira melihat anjing itu setia berjaga. Sebagai tanda terimakasih,pedagang itu memberikan sekeping uang perak pada anjing itu.

Anjing itu pulang sambil menggigit uang perak di mulutnya. Ketika pemburu itu melihat anjingnya pulang dengan menggigit uang perak,dia menjadi marah karena menyangka anjingnya mencuri uang itu dan kabur dari tugasnya. Dia mengambil tongkat dan memukuli anjing itu sampai mati. Di kemudian hari pemburu itu bertemu lagi dengan pedagang itu dan mengetahui duduk perkara sebenanarnya, tapi sudah terlambat,anjingnya sudah mati.

Di sebuah desa, ada seorang ibu yang mempunyai kucing yang sangat setia. Ketika ibu ini pergi bertani, dia menitipkan bayinya pada kucing itu untuk dijagai. Ketika kucing ini berjaga, seekor tikus besar memanjat ranjang bayi itu dan mencoba menggigit kupingnya. Dengan segera kucing ini mengejar tikus besar itu dan membunuhnya.

Tapi, ketika kucing itu mengejar tikus,seekor tikus besar lain diam-diam memanjat ranjang bayi itu dan menggigit kupingnya sampai berdarah. Tangisan bayi itu mengejutkan si kucing dan dengan segera dia berlari ke kamar majikan kecilnya. Melihat kupingnya yang berdarah, si kucing memanjat naik dan menjilati telinga majikan kecilnya untuk meredakan rasa sakitnya.

Tepat pada saat itu sang ibu pulang dan mendengar tangis bayinya segera berlari ke kamar anaknya. Dilihatnya kuping bayinya berdarah dan kucing peliharaannya sedang menjilati darah yang mengalir dari luka anaknya. Tanpa berpikir panjang, diambilnya tongkat dan dihajarnya kucing itu sampai mati. Ketika dia melihat bangkai tikus yang baru dibunuh kucingnya, baru dia menyadari kesalahannya. Tapi sudah terlambat,kucingnya sudah mati.

Seorang pendeta yang terkenal sifatnya keras dan galak sedang berkotbah di kebaktian hari minggu. Saat dia sedang berkotbah, dilihatnya 2 orang jemaat yang sibuk berbicara. Kedua jemaat ini saling bercakap-cakap sejak kotbahnya dimulai. Tanpa menanyakan apa yang mereka bicarakan atau kenapa mereka bercakap-cakap, pendeta ini dengan segera menegur dan menghardik kedua jemaatnya ini di depan jemaat-jemaat yang lain. Dengan perasaan malu karena ditegur di depan banyak orang, kedua jemaat ini berhenti bercakap-cakap. Dan pendeta itu melanjutkan lagi kotbahnya sampai selesai.

Yang tidak diketahui oleh pendeta ini, adalah bahwa jemaatnya yang mengobrol itu bukan mengobrol gosip. Salah satu dari jemaatnya itu terlahir dengan pendengaran yang tidak sempurna dan hampir tuli. Dan walaupun setiap hari minggu gadis ini tidak bisa mendengar musik pujian dan kotbah pendeta, dia tetap bersemangat untuk datang. Hari minggu itu, waktu dia bercakap -cakap dengan temannya dan ditegur pendeta, dia bukan mengobrol tapi temannya sedang menjelaskan isi kotbah dengan berbicara tepat di telinganya !
Ya, saya tahu kalau pendeta wajar saja kalau menegur jemaat yang dirasa mengganggu kotbahnya.
Ya, saya juga tahu walaupun kedua jemaat ini tidak punya maksud jahat tapi mungkin saja mereka juga mengganggu jemaat lain di sekitar mereka.

Tidak masalah siapa yang salah, apakah jemaatnya yang kurang sensitif atau pendetanya yang “ Hajar dulu nanya belakangan”.

Tapi, apa yang kita lihat dan pikirkan tentang sesuatu belum tentu sesuai dengan kenyataannya. Jangan terburu menarik kesimpulan dan menghakimi sebelum kita tahu duduk perkaranya. Dengarkan dulu apa yang sebenarnya terjadi, dan janganlah cepat marah ( Yakobus 1:19).

PS : Cerita anjing dan kucing itu berasal dari cerita legenda rakyat Mongol, tapi cerita pendeta itu pengalaman pribadi seorang teman.
 
Sumber : Warung Bakmi

0 Comments